Dari Hati

Banyak orang yang beranggapan bahwa besarnya sebuah mimpi diukur dari seberapa besar pencapaian dari mimpi tersebut.

Tapi bagi ku, besarnya sebuah mimpi diukur dari seberapa besar aku berharap mimpiku akan terwujud.

Dan aku memiliki mimpi bahwa ibu bisa datang ketika aku wisuda nanti.

Hari ketika ibu meninggal adalah hari ketika aku mencoret salah satu dari 101 daftar mimpi yang aku tulis saat semester satu dahulu.

Bukan karena mimpi itu sudah terwujud, tapi karena mimpi itu sudah tidak mungkin untuk ku wujudkan.

Mimpi ke-49 : Wisuda yang disaksikan oleh kedua orang tua.

Ibu lah alasan kenapa aku kuliah. Ibu lah alasan kenapa aku punya semangat untuk hidup. Ibu lah hidup ku sendiri.

Jikalau bukan karena bimbingan Yang Maha Kuasa, saat ditinggal ibu, aku hampir tidak tau apa tujuan hidup ku selanjutnya.

Kuliah juga buat apa kalo gak ada yang bisa liat aku wisuda. Buat apa aku berjuang. Bahkan, apa sebenarnya yang aku perjuangkan sekarang.

Itu yang terbetik di hati ku saat itu..

Namun Alhamdulillah, tak perlu waktu lama hingga ku teringat ceramah seorang ustadz saat menjelaskan tentang hakikat kehidupan ini.

Hakikat kehidupan berupa beribadah kepada Allah semata.

Seperti yang termaktub dalam Al Qur’an :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.

[ Adz Dzariyaat : 56 ]

Saat itu ku tersadar, jika setiap aktivitas kita diniatkan untuk ibadah, yaitu dengan mengikhlaskan setiap aktivitas kita hanya untuk Allah dan mengikuti tuntutan RasulNya, maka aktivitas kita selain bernilai di dunia juga berpahala di akhirat.

Teman-teman, suasana di makam ibu itu enak lho, soalnya di desa gitu.

Sepi, hawanya sejuk, pohonnya banyak dan rimbun, gak ada orang jualan, pengamen, pengemis, pokoknya gak ada yang macem-macem gitu deh.

Bahkan di pemakaman ibu ada kelinci-kelinci yang dilepas bebas gitu aja buat makanin rumput-rumput disana.

Bayangin coba hawanya sejuk dan sepi, terus liat kelinci mondar-mandir.

Jadi laper kan. Ingin rasanya ku sate.

Dahulu ibu pernah memiliki mimpi ingin punya rumah di desa untuk menghabiskan masa tua.

Ibu sangat menyukai suasana desa.

Dan setiap kali ibu mengakhiri cerita tentang mimpinya tersebut, aku selalu mengatakan :

nanti kalo aku udah kerja aku beliin satu rumah di desa buat ibu.

Dan ibu selalu mengamininya.

Ya, rumah buat ibu di desa menjadi barang pertama yang benar-benar ingin ku beli setelah aku kerja nanti.

Bukan rumah buat istri, bukan motor, bukan pula mobil.

Tapi sebuah rumah buat ibu di desa demi mewujudkan mimpi ibu.

Dan aku berjanji untuk datang setiap hari menengok.

Walaupun sekarang itu hanya angan, tapi aku bersyukur.

Ibu sekarang pasti senang. Karena ibu bisa beristirahat di tempat yang selalu ibu impikan, walau dalam bentuk yang berbeda.

Pokoknya kalian musti coba ke sana deh, tapi bilang dulu ya, biar aku siapin dulu lobangnya.

bercanda gaess 

Oh iya, sebenarnya catatan ini ingin ku beri judul “Dari Aku Untuk Ibu” seperti note ku yang sebelumnya.

Tapi karena ibu sudah tiada dan tidak mungkin baca catatan ini. Akhirnya ku beri judul “Dari Hati”, yang memang merupakan arti dari catatan ini.

Aku tak akan menuliskan kesimpulan seperti catatan-catatan ku sebelumnya. Ku biarkan maksud dari catatan ini tersirat, bukan tersurat.

Yang berarti ku biarkan pembaca menafsirkan sendiri apa yang sebenarnya ingin ku sampaikan.

Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca catatan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *